Al-Quran · Tadabur

Mahkota Hati

hati
Ilustrasi Mahkota Hati

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At Taghaabun [64] : 11)

Dalam ayat tersebut, dalam mushaf terjemahan indonesia, kata “yahdi qalbahu” diartikan dengan kata, “memberi petunjuk kepada hatinya.” Menurut Ustadz Hanan Ataki, terjemahan ‘akan memberi petunjuk kepada hatinya itu tidak pas dengan makna sebenarnya dalam bahasa arab. Jika dalam bahasa arab, kata “yahdi qalbahu” itu maksudnya adalah “membimbing hatinya” bukan diberi petunjuk hatinya. Karena bisa berbeda makna.

Jadi, arti dari firman Allah, وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ adalah “Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan bimbing hatinya (dengan petunjuk). Dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”

Mengapa yang dibimbing oleh Allah Ta’ala adalah hatinya, bukan mukanya, atau tangannya, atau badannya? Tapi mengapa hati? Ya, hati adalah raja dalam tubuh kita. Dan hati mempunyai mahkota.

Hati adalah raja. Sedangkan yang lain adalah tentaranya. Sungguh, jika raja memerintahkan suatu kebaikan, maka tentaranya pun, adalah tentara kebaikan.

Hati itu memiliki sebuah ‘mahkota’ yang sangat indah. Jika mahkota itu digunakan dengan baik dan senantiasa ada dalam hati, maka tentara-tentara kebaikan akan mudah mengikuti apa yang diperintahkan oleh hati.

Namun, apabila mahkota itu tidak digunakan dan tidak ada di dalam hati, maka tentara-tentara kebaikan itu akan sulit mengikuti apa yang diperintahkan oleh hati.

“Apa mahkota yang ada dalam hati itu?”
“Mahkota hati itu adalah rasa malu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara yang didapat manusia dari kalimat kenabian terdahulu ialah: Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)

Apabila rasa malu ini masih ada dalam dirimu, maka kebaikan itu masih ada. Akan tetapi, ketika rasa malu itu sudah tidak ada, maka kebaikan dalam dirimu itu telah sirna. Dan, bukankah rasa malu itu adalah cabang dari keimanan?

Catatan Kajian Tadabur Al-Qur’an bersama Ust. Hanan Ataki, Lc

Masjid Al-Lathiif, Rabu 22 April 2015

Bisma Darma Kurnia

Iklan

Tinggalkan Komentar Terbaik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s