#JejakHikmah

Papandayan Punya Cerita

“Kalau kamu pendaki pemula, dan mau belajar menyukai pendakian, maka gunung papandayan lah tempatnya.”

Begitu ujar seorang teman yang saya lupa lagi siapa orangnya.

Saya mulai mencerna perkataannya. Dan jadi penasaran dengan gunung yang satu ini, Papandayan.

Ya, kalau disebut pemula. Bisa jadi saya pendaki pemula. Tapi, bisa jadi juga tidak. Karena memang cukup banyak juga gunung-gunung yang sudah didaki. Namun belum begitu banyak juga sih. Hehe.

Waktu itu, tanggal 24 Maret 2016, yang mana kami komunitas PETA dari kampus at-taqwa merencanakan untuk mendaki lagi. Dan pendakian kali ini tujuannya adalah Gn. Papandayan, Garut. Ketika melihat jadwal pendakiannya dan kegiatan libur mengajarnya sesuai. Maka jadilah saya bisa dan mengiyakan untuk ikut pendakian kali ini.

Ada yang berbeda pendakian ke Papandayan kali ini, kalau waktu ke Gn. Guntur waktu kita menginap, buat tenda / nge-camp di sana. Tapi untuk pendakian Papandayan kali ini kita memutuskan untuk ‘tektok’ pulang pergi. Keren ya? Biasa aja sih. Haha. Hanya lebih irit pengeluarannya saja.

Hari Kamis, bada isya pukul 20:00 wib. kami berkumpul dan rencana berangkat dari kampus At-Taqwa menuju Garut. Dan yang jadi ikut untuk pendakian Papandayan pada malam itu ada delapan orang. Ada saya, kang Irfan, kang Sopian, kang Ridwanullah, Tia, Uyuy, Della, dan Ami.

image
Berkumpul di masjid At-Taqwa KPAD Geger kalong, Bandung

Tepat pukul 20:30 malam kami mulai pemberangkatan dengan mengendarai motor. Kami bersama, memulai perjalanan malam, yang dengan sebelumnya diawali dengan membaca doa dan berharap semoga Allah Ta’ala mudahkan perjalanannya selamat sampai tujuan.

***

Kami memulai perjalanan dari kampus at-Taqwa menuju Garut, kurang lebih selama 3 jam, kami sampai di Pom Bensin Tanjung, pada pukul 23.35 wib. Sesampainya di sana, kami berhenti sejenak dan membeli nasi goreng. Lumayan, mengisi perut yang sudah terasa lapar.

image

Pukul 23.56 wib, setelah makan malam, kami berencana akan istirahat terlebih dahulu di teras mushola pom bensin tanjung. Dan, akan melanjutkan perjalanan ke Cisurupan, tempat masuk jalur Gunung Papandayan.

Selepas istirahat dan tidur, pukul 03:45 wib. kami memulai kembali perjalanan menuju Cisurupan. Udara dingin mulai kami rasakan. Awalnya sempat bingung untuk sampai ke Cisurupan, namun akhirnya sampai juga karena bantuan google maps. Hehe.

Sesampainya Cisurupan pukul 04:29 wib, kami berhenti di salah satu masjid besar di sana. Sedikit mengistirahatkan, dan melaksanakan shalat Subuh di sana. Kemudian setelah itu sarapan, mempersiapkan logistik, dan pukul 06:30 kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di tempat parkir Papandayan.

image
Halaman Masjid Besar di daerah Cisurupan dengan background Gn. Cikuray

***

Sejurus kemudian kami membeli tiket masuk, dan melakukan registrasi / pendataan pendaki pada pos pertama Papandayan. Ada yang lucu di sini, ketika setelah membeli tiket, dan setelah itu menuju pos pendataan awal, ternyata tiket yang sudah dibeli oleh kang Irfan, dan dipegang oleh Della, ternyata tidak sengaja jatuh entah kemana. Tapi untungnya, di pos pendataan tiketnya tidak diminta kembali. Haha.

image

Kurang lebih pukul 07:30 pagi, setelah memarkirkan kendaraan, menyimpan helm, dsb, juga pendataan selesai dilakukan, kami mulai start pendakian Papandayan.

Pemandangan pertama yang kami lihat ketika awal pendakian menuju kawah Papandayan adalah gunung-gunung lain. Ya, seperti Cikuray, Guntur, Galunggung, dll. Dan itu membuat indah hati ini ketika masih pagi, dan sinar matahari juga awan pun berkumpul seperti menyapa dengan hangatnya.

image

image

image

Ketika awal start pendakian Papandayan, kami sebelumnya memutuskan untuk melalui kawah Papandayan terlebih dahulu, kemudian Pondok Saladah, terus Tegal Alun, kemudian terakhir, sejurus dengan jalur turun akan bertemu dengan Hutan Mati.

Pada saat di kawah, kita disuguhkan dengan pegunungan-pegunungan disekitarnya. Seperti bukit-bukit yang hijau, bekas lempengan kawah, dan bebatuan berwarna putih. Indah sekali. Yang khas dari kawah ini adalah bau yang menyengat. Kami merasakan agak sedikit tidak bebasnya bernafas. Tidak seperti biasanya. Itu aja sih. Tapi, masih bisa bernafas adalah nikmat yang tak terhingga yang jarang sekali kita syukuri pada tiap hembusannya.

image

Dari awal mulai pendakian, kita para pendaki bakal melihat megahnya kompleks kawah Gunung Papandayan yang dikelilingi tebing-tebing tinggi. Kepulan-kepulan asap dan air belerang yang meletup-letup memperlihatkan seberapa aktif gunung ini. Bau belerang yang menyengat dari arah kawah malah menjadi daya tarik tersendiri.

Kami pun terus mengikuti jalan setapak di samping kawah. Dan di sini, kita bisa menggunakan masker untuk melindungi saluran pernafasan dari gas belerang yang keluar dari kawah. Selain baunya yang menyengat, gas ini juga bersifat racun dan bisa membuat pusing jika terhirup dalam jumlah banyak, katanya.

image

Setelah melewati kawah, dan menaiki bukit-bukit, pukul 09:45 kami sampai juga di pondok Saladah. Pondok Saladah ini adalah tempat mendirikan tenda yang paling sering digunakan. Selain karena luasan-luasannya yang cocok untuk berkemah, di sini juga terdapat sumber air yang cukup melimpah.

image

Di sini, Di Pondok Saladah kami hanya istirahat, makan makanan ringan, ke toilet, dsb. Ya, enaknya di Papandayan ini adalah sumber airnya. Dan juga banyaknya warung-warung yang disetiap pos nya selalu ada. Alhamdulillah.

Tak lama dari Pondok Saladah, kami melanjutkan pendakian menuju Tegal Alun. Sebelumnya diantara kami ada yang bertanya, seberapa lama perjalanan dari Pondok Saladah menuju Tegal Alun? Dan jawabanny adalah kurang lebih 1,5 jam. Lumayan. Hehe.

***

Jalur perjalanan dari Pondok Saladah menuju Tegal Alun tidaklah mudah dibandingkan dengan jalur pendakian sebelumnya. Bisa jadi, di sinilah hal yang asyiknya. Perjalanan menanjak, dari mulai melewati sedikit kawasan Hutan Mati, kemudian mengarah ke atas, melewati jalur yang sedikit curam ke atas. Hampir, 70-90 derajat kemiringannya. Nanjak lah pokona mah. Kata sebagian orang dari kami. Tanjakan ini mirip tanjakan ke Gunung Manglayang.

image

Ada hal yang tak bisa dilupakan pada pendakian menuju Tegal Alun, selepas selesai melewati tanjakan mamang. (Julukan tanjakan curam itu, red) Kami rombongan yang berdelapan tiba-tiba terpisah. Rombongan yang di depan, Tia, Uyuy, kang Irfan, 3 orang yang terpisah dengan rombongan yang di belakang, ada 5 orang, saya, Kang Sopian, Kang Ridwanullah, Ami, dan Della.

Lucunya, kami ketika itu sedikit panik, haha. Ketika itu awal mulanya kang Ridwanullah berkata, “Wah, ini ambil jalur kanan atau kiri?”

Saya yang paling belakang menjawab, “emang kang Irfan yang di depan tadi kemana?”

Kang Ridwanullah pun kebingungan, “Ga tahu, tadi tiba-tiba saya kehilangan jejak.”

“Waduh.” Jawab saya.

Kami pun mencoba berteriak, memanggil rombongan depan yang tiga orang tadi.

“Kang Irfaaan…?!”
“Teh Tiaaa….?!”
“Uyuuuy, kalian di manaaa?”
“Belok kanan atau kiri..?!”

Kami teriak bergantian. Dan ternyata tak ada yang menjawab sama sekali. Tak ada suara menyaut, bahkan gema dan gaung pun tidak ada ketika di sini. Di dalam pepohonan yang menutup langit, setelah tanjangakan mamang, kita kebingungan memilih jalan, dan keheranan pada di mana tiga orang yang di depan.

Melihat kondisi begitu, kami yang berlima mencoba mengambil keputusan yang tepat. Apakah mengambil jalur kanan, atau mengambil jalur ke kiri.

Diantara kami ada yang mencoba melihat bekas jejak langkah sepatu. Siapa tahu bisa membantu. Namun ternyata tidak mudah. Kita coba dulu ke arah kiri, sambil kembali berteriak-teriak, dan tetap tak ada jawaban apa pun. Kondisi sedikit panik. Banyak pikiran-pikiran yang tidak-tidak masuk dalam benak. Ah, anehnya itu kenapa bisa terpisah. Padahal sebelumnya kami berjalan tidak berjarak. Saling dekat. Tapi entah kapan, tiba-tiba pas ada dua belokan ini, jadi terpisah.

Setelah mencoba jalur kiri, tak ada tanda-tanda jejak langkah dan kehidupan. Kami kembali ke tempat yang terpisah tadi, dan mencoba jalur kanan. Sambil berteriak-teriak memanggil nama kang Irfan dan yang lainnya, namun tetap tak ada suara yang menjawab. Tapi jalur ke kanan ini agak sedikit cerah, sebab jalur ke sini ada tanda-tanda tali rapia di pepohonannya, dan akhirnya ada tanda plang berwarna putih yang bertuliskan, “Tegal alun, maju terus.”

Wah, melihat tanda plang itu kami bergegas meneruskan perjalanan dan berharap 3 orang diantara kami yang terpisah sudah ada di sana (Tegal Alun).

Cuaca mulai mendung, cahaya semakin gelap yang sepertinya tanda mau turun hujan.

Tak lama setelah itu, setelah mengikuti jalur tanda panah tadi, akhirnya sampai disuatu dataran yang agak luas, dipenuhi dengan tanaman-tanaman edelweiss, kami rasa inilah tempatnya. Tegal Alun. Tapi sebentar, kok ga ada siapa pun di sini..?!

Saya awalnya mengira bahwa kami berlimalah yang tersesat, dan jadi terpisah. Dan setelah sampai dataran luas banyak tanaman edelweiss pun tak ada siapa pun. Ditambah, di sana ada genangan air seperti danau kecil yang tenang dan hening. Dalam hati, “ieu kitu Tegal Alun teh?! Tapi naha sepi, jeung aya danau sagala.” kalau dalam bahasa indonesianya mah, “ini gitu ya, tegal Alun itu. Tapi kenapa sepi dan ada danaunya juga.”

Timbul pertanyaan, apakah ini tempatnya, apakah ini tujuan kita itu? Tegal Alun?

Saya sedikit bingung juga, ada perasaan takut, takut salah tempat, sebab dataran ini sangatlah luas, dan penuh sekali dengan tanaman-tanaman edelweis, pepohonan-pepohonan lainnya.

Kami masih mencoba berteriak memanggil nama 3 orang yang terpisah. Melihat kondisi seperti ini, kita merasa kita lah yang salag jalur, dan tersesat. Della mulai sedikit takut, dia berkata, “pokoknya sekarang kang Bisma ya, yang jadi pemimpinnya. Kita harus bisa kembali pulang.” Ujarnya.

Hmm, mendengar perkataannya tadi, timbul rasa kepemimpinan yang mana di sini saya harus mengambil keputusan, apakah tetap di sini dulu atau kembali mencari jalan lain.

Yang membuat saya tak mau lama-lama di sini, yang pertama, merasa bahwa kita lah yang tersesat. Padahal benar, inilah Tegal Alun!

Yang kedua, ketika di sana, cuaca makin mendung. Dan mulai turun hujan. Kami pun menggunakan jas hujan.

Ada pendapat, kita shalat saja dulu di sini. Tapi saya pikir ini bukan tempat yang enak buat shalat. Saya menyarankan shalatnya ditempat kita tadi mulai terpisah saja. Siapa tahu mereka yang bertiga juga kembali dan mencari kita.

Yang ketiga, di Tegal Alun ini tidak ada orang lain. Pikiran saya, kalau ini benar Tegal Alun, pasti banyak orang juga di sini. Karena tadi ketika kita mulai mendaki dari Pondok Saladah juga banyak orang lain, atau group pendaki lain yang berjalan melewati kita.

Dan terakhir yang membuat saya sampai tak ingin lama-lama di sini, bahkan sampai hilang hasrat berfoto-foto (padahal pemandangan cukup bagus, ditambah ada danau kecil) adalah Ami yang bilang sebelumnya, “Eh, kenapa ada danau di sini. Gimana kalau sampai ada buayanya. Heu.”

Mendengar itu, saya jadi sedikit takut. Bukan karena benar ada atau tidak adanya buayanya. Tapi perkataannya yang sedikit ‘sompral’ hehe…

Ah, pokoknya bingung. “Ayo, sekarang mah kita kembali saja.” Ajak saya kepada yang lain.

Kang Sopian, kang RRidwanullah juga Ami mah masih ada hasrat untuk selfie di sana. Tapi saya mah nggak. Rasanya ingin mendapatkan jalan atau kepastian yang benarnya.

Maka kami pun, meninggalkan tempat itu. Kembali mengikuti jalur sebelumnya yang kami lewati.

Sejurus kemudian, ketika kami berjalan dan beristirahat dulu karena Della merasakan sakit di kakinya dan bilang ke saya gak kuat lagi jalan, tiba-tiba ada orang lain, dari group lain yang berjalan menghampiri kita. Kami pun senang. Karena akhirnya menemukan kehidupan. Haha.

“Kang, dari mana?” Tanya kami kepada kelompok pendaki lain.

“Dari Tasik.” Jawab salah satu dari mereka.

“Eeh, bukan itu maksudnya, Kang. Tadi dari jalur mana? Dan sekarang mau ke mana?” Tanya kami lagi kepada mereka.

“Oh. Tadi kami tersesat. Salah jalan. Dan ke sini jalur Tegal Alun, kan?”

“Hah, hmm.. berarti tempat yang tadi itu benar Tegal Alun ya. Dan yang tersesat itu bukan kita, tapi mereka.” Ujar saya lega.

Diantara kami ada yang bertanya, “terus akang lihat yang bertiga diantara kami ke sana ga? Soalnya tadi terpisah.”

“Oh iya. Ada, sekarang mereka juga sedang menuju ke sini. Tunggu aja.”

“Oh gitu, ok sip kalo gitu.” Jawab kami.

Alhamdulillah.. ternyata bukan kelompok saya yang tersesat, justru tadi sudah benar Tegal Alun. Adanya danau kecil di sana karena bekas hujan akhir-akhir ini.

Dan tak lama, yang bertiga terpisah tadi datang juga menghampiri kita berlima. Kemudian akhirnya, yang bertiga karena belum sampai ke Tegal Alun, mereka berjalan terus menuju Tegal Alun, dan tetap istirahat saja, karena tadi sebelum nua sudah, walau tak menyadari kalau itulah Tegal Alun yang benar.

***

Ceritanya belum selesai, Wak, masih bersambung…

Iklan

Tinggalkan Komentar Terbaik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s