#JejakHikmah

[Sebaik-baik Perhiasan]

Pernah suatu hari, dan sampai saat ini, saya berpikir bahwa keberhasilan terbesar dalam hidup itu bukan dilihat dari seberapa banyak harta yang didapat, bukan dilihat dari seberapa tinggi jabatan atau pangkat yang diperoleh, bukan dilihat dari rumah mewah yang dibangun, bukan dilihat dari banyaknya kendaraan, kebun, perhiasan, perusahaan yang didirikan, dan apa pun itu, sungguh itu semua amatlah kecil. Ya, bukan. Bukan itu kesuksesan terbesar. Bagi saya, kesuksesan terbesar dalam hidup adalah ketika hati senantiasa dekat dan hanya berharap kepada Allah Yang Maha Besar.

Masih teringat dalam benak, ketika masih dibangku sekolah menengah kejuruan, saya sempat berkata dalam hati. Bahwa salah satu ciri kesuksesan dalam hidup adalah menikah. Bukan hanya menikah, tapi yang lebih lengkap adalah menikah tanpa pacaran. Percaya atau tidak, tapi bagi saya, memang inilah salah satu kesuksesan yang saya cita-citakan. Menikah tanpa Pacaran. Jadi pacarannya itu setelah menikah saja. Mengapa begitu, karena saya yakin, pacaran setelah menikah itu jauh lebih disukai Allah daripada pacaran sebelum menikah. Sepakat, kan? Harus.

“Nah, terus,  kalo nggak pacaran dulu, emang bisa gitu langsung menikah? Tanpa tahu siapa pasangan kita, bagaimana karakternya, sikapnya, kesukaannya, dan yang lainnya?” Insya Allah bisa. Islam adalah petunjuk terbaik, solusi bagi kehidupan kita, semua aturan Allah dan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah kebiakan bagi kita semuanya. Percayalah.

Ada banyak cara untuk mengenal seseorang yang kita suka tanpa harus pacaran terlebih dahulu, tanpa harus SMS-an terlebih dahulu, tanpa harus nanya kabarnya tiap detik, tanpa harus nanya sudah makan atau belum, tanpa harus bela-belain tampil baik terus dihadapannya. Ya, tanpa harus begitu. Tanpa harus PDKT terlebih dahulu. Kita bisa kenal dan tahu siapa dia sebenarnya, baik atau tidak untuk kita. Caranya? Begini, daripada PDKT langsung ke orangnya, yang banyak sekali kesalahan dan ketidak baikan di dalamnya, lebih baik PDKT saja langsung dengan Sang Pemilik hatinya, lewat doa misalnya, bisa lewat guru ngajinya, atau bisa juga langsung menemui kedua orang tuanya, insya Allah perasaan kita akan langsung tembus ke hatinya.

Menikah adalah ibadah. Dan pacaran itu penuh dengan pintu kemaksiatan. Karena berkhalwat (berdua-duaan) dengan seseorang yang belum muhrimnya, yang ketiganya syaithan, yang keempat dan kelimanya malaikat pencatat amal baik dan buruk. Dan tentunya, ada Allah yang Maha Melihat setiap apa yang kita lakukan dengannya. Baik yang tersembunyi mau pun yang terang-terangan. “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hadid [57] : 4).

Jadi, menikah itu kan, ibadah. Pacaran itu maksiat. Nah, lucu aja gitu, masa kita melakukan maksiat untuk ibadah. Hehehe. Kalem, tapi ini serius. Karena menikah itu adalah ibadah, maka jangan pernah sekali-kali merusak keindahan ibadah itu dengan banyak maksiat sebelumnya. Seharusnya, ketika hendak menikah, atau dalam proses memantaskan diri, menjemput atau nunggu jemputan, itu diisi dengan kebaikan, diisi dengan ibadah juga. Seperti mulai memperbaiki diri, menjaga kehormatan, menjaga hati, menutup aurat, memantaskan diri sungguh-sungguh dihadapan-Nya, banyak doa, rutinkan shalat tahajud, memperbaiki akhlak, memperbanyak shaum, menambah hafalan Qur’an, atau bisa membantu kedua orang tua, dan masih banyak lagi kebaikan-kebaikan lainnya yang bisa kita lakukan. Karena sesungguhnya, menunggu itu tidak akan membosankan selama kita mengisinya dengan kebaikan.

Percayalah, kebaikan yang kita lakukan sebelumnya itu akan melahirkan kebaikan yang lain setelahnya. Allah Ta’ala berfirman, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahmaan [55] : 60).

Dan kita senantiasa berharap, dalam masa single ini (sebelum menikah) kita isi dengan kebaikan. Pun setelah nanti menikahnya juga, harus semakin banyak lagi kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Seperti nasihat dari KH. Abdullah Gymnastiar yang pernah saya dengar pada kajian Ma’rifatullah, “Menjemputnya jadi dekat dengan Allah. Sudah dapat, harus semakin dekat dengan Allah.” Ya, karena tujuan menikah adalah ibadah, maka senantiasa harus saling bahu membahu menjaga keluarga, pasangan kita, anak-anak kita dari siksa api neraka. Dan berusaha sekuat tenaga saling menasihati dalam kebaikan menuju surga-Nya. []

Bersambung…. insya Allah.

***

Jangan menunggu buku ini terbit ya. Sebab, buku ini akan terbit bersamaan dengan terbitnya buku nikah saya dari KUA. Dan itu, saya sendiri belum tahu kapan diterbitkannya. Tanya aja ke KUA-nya langsung. Hehe..

Iklan

Tinggalkan Komentar Terbaik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s