#JejakHikmah

Manisnya Gula

gula

Kemarin, sepulang kuliah, kami mampir dulu ke salah satu kedai ramen yang tak jauh dari kampus. Saya memilih menu makan yang diinginkan, dan tak lupa dengan memesan juga minumnya.
Biasanya, kalau melihat menu yang ada, laki-laki itu pasti lihat dulu tulisan yang paling kanannya. List harganya. Beda dengan perempuan, kalau perempuan memesan menu makan lihat yang kirinya dulu, baru yang kanannya, hehe.. Sore itu, salah satu teman saya memesan es teh manis.
“Kang, minumnya mau apa?”
“Es teh manis aja, saya mah.”
“Ok, saya tulis.”
“Sip.”
Ketika kita mau buat teh manis, misalnya. Kita tinggal menambah gula ke dalam air teh tersebut. Tapi semua berawal dari gula pasir yang baru dimasukkan ke dalam air teh. Gula sudah ada dalam gelas, tapi kita malah langsung meminumnya tanpa ‘mengaduknya’, yang kita harapkan inginnya manis, tapi jadinya tawar karena kita belum mengaduknya, atau karena terlalu malas untuk mengaduknya.
Bagaimana mau merasakan dan menikmati manisnya air teh, kalau mengaduknya saja kita tidak mau? Aduklah terlebih dahulu gulanya, maka air teh tersebut akan berubah rasanya menjadi manis.
Dalam kehidupan, keimanan kita juga seperti itu. Iman sudah ada dalam hati kita. Mengapa kita tidak bisa merasakan manisnya iman? Mungkin, bisa jadi kita belum mengaduk iman yang ada dalam hati kita.
Padahal, jika kita ‘mengaduk’ iman itu dengan ilmu, dengan amal, dengan kebaikan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, maka niscaya kita akan merasakan manisnya iman.
Selamat mengaduk iman, karena manisnya hidup, kita yang tentukan. 🙂
#JejakHikmah, 06.24 am.

Iklan

Tinggalkan Komentar Terbaik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s